ISLAM MENURUT SAYA
Maaf, saya mau cerita sedikit tentang pemahaman saya tentang islam.
Saya mungkin gak punya pemahaman mendalam tentang ritual, makrifat, Syariat, tasawuf ataupun ilmu hikmah.
Tapi penalaran saya sederhana sekali.
Islam tidak diciptakan untuk menyusahkan kita, seperti utusan yang membawa berita gembira itu pada kita
Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam.
Islam agama yang sederhana, fitrah (sesuai dengan qudrat kita).
Bayangkan kita diberikan kesempatan bertemu dengan tuhan semesta alam, minimal 5 kali dalam sehari, sementara agama lain hanya pada waktu tertentu.
Bayangkan kita diberikan kesempatan mengembangkan kemampuan berpikir, tidak dibebani berbagai pantangan tanpa dasar.
Bayangkan kita diberikan 2 petunjuk, al Quran dan Hadist. Langsung dan dijamin keasliannya.
Sementara ada agama yang petunjuknya hanyalah salinan dari perilaku sang pemuka.
Bayangkan kita boleh menikah, beranak cucu, tanpa dikurangi kesempatannya menjadi pemuka agama.
Bayangkan kita boleh makan sapi, ayam, kambing, bahkan babi yang haram; tentunya dengan catatan amat sangat kepepet hingga jiwa taruhannya.
Bayangkan kita diberikan bulan ramadhan, dimana pahala diobral dan kita bisa kejar setoran.
Saya pernah mendengar seorang ulama yang mengatakan :
“Haram hukumnya beribadah kepada Allah kecuali yang diijinkannya.”
Bukan maksudnya mengharamkan ibadah, tapi menghindari bid’ah.
Menambah-nambahi ajaran tanpa dasar, bahkan dalam hal beribadah juga nggak boleh.
Tentu saja boleh melakukan terjemahan-terjemahan berdasarkan akal sehat terhadap ajaran Islam. - Kalau tidak begitu islam akan statis dan kehilangan kemampuan menyesuaikan diri pada perkembangan dunia. Berikutnya tinggal tunggu wafatnya….- Tapi terjemahan itu juga harus berdasar. Tidak boleh Cuma mengandalkan otak brilyan, tapi juga punya pengetahuan terhadap ajaran Islam.
Menurut saya Islam dasarnya adalah balance, keseimbangan, synchronization, tidak ada yang berlebihan dan kekurangan.
Ada hubungan dengan Allah; hubungan dengan sesama manusia, dan tentu saja dengan alam semesta ini.
Bukan hanya diharapkan menjadi insan yang taat beribadah, tapi juga gigih berusaha. Bukan hanya dekat ke akherat tapi juga lekat dengan dunia.
Memang baik jadi muslim taat yang hidup sederhana dan jauh dari dunia Tapi akan lebih bermanfaat kalau kita jadi muslim kaya yang tetap intact dengan dunia, bisa lebih banyak membantu orang. Dakwah bisa lebih kenceng, impactnya lebih terasa. Cuma godaan akan lebih jumawa.
Yah…makin tinggi pohon memang makin keras diterjang angin, tapi kita kan gak bisa selamanya jadi rumput yang diinjak-injak…
Tunjukkan kalau kita umat yang dianugerahi cahaya. Terangi orang lain, jangan malah menyimpan cahaya itu untuk mu sendiri.
Islam itu indah dan menarik.
Ketenangan yang ditawarkan, pelepasan yang dianugerahkan, pasti terlalu menarik untuk ditolak.
Tapi kadang-kadang kita dibatasi oleh kata-kata.
Kita dibesarkan oleh dunia yang percaya bahwa kata-kata adalah raja.
Dibuat percaya semua bisa dijelaskan dalam goresan-goresan yang dimaknai dengan kata-kata.
Padahal kata-kata itu sangat terbatas…
Keindahan dan kemudahan yang ditawarkan islam seringkali tertutupi oleh kata-kata yang mencoba menjelaskannya.
Bisakah kamu menjelaskan rasa sakit itu? Bagaimana bentuknya? Rasanya?
Bagaimana kamu menjelaskan surga? Yang tak pernah tertangkap mata? Tak pernah terdengar telinga? Dan tak mampu dibayangkan rasa?
Bagaimana kamu menjelaskan kebahagiaan? Sedang kamu dikungkung dunia yang penuh kenistaan? Yang kebahagiaan didalamnya hanya umbaran syahwat?
Bagaimana kamu menjelaskan Tuhan?
Apalagi untuk menjelaskan Allah……
Jadi kita jalani aja dengan sederhana
Disuruh beribadah, ya kita ibadah… toh Cuma 30 menit sehari… Cuma waktu untuk menghabiskan 5 batang rokok.
disuruh bagi-bagi rejeki ya dijalani aja… toh kita juga Cuma dikasih, toh bukan punya kita
disuruh berbuat baik ya dilakukan …toh kebaikan kita selalu diiringi pamrih, jadi jangan merasa seratus persen suci
disuruh mencegah yang munkar ya di coba saja…toh kita boleh mulai dari diri kita
gak usahlah pikir yang berat-berat
Allah tau kemampuan kita yang Cuma secuil, Dia yang menciptakan kita..
Percaya aja kalau kita tak akan dibebani diatas kemampuan kita…
Buktinya udara tak perlu dibeli, air tanah disediakan gratis, tak perlu soleh untuk dapat rizqinya.
Buktinya kita masih boleh berkeluarga, having sex, nonton televisi, dan bergaul dengan sesama.
Dan ternyata kebahagiaan sejati datang dari hal-hal sederhana seperti seulas senyum di bibir terkasih…..
Tapi itu menurut saya yang cetek ilmu agamanya.
Kadang-kadang aku ngerasa sendirian sekali, gak ada yang peduli and noone there when I look for comfort…tapi kemudian aku tersadar bahwa aku telah diberikan hak dan anugerah luar biasa. Tidak hanya diberikan anugerah kehidupan, aku juga diberikan kebebasan memilih sendiri jalanku…
apa yang aku ingin dan akan lakukan .apa yang aku rencanakan.. apa yang aku bayangkan..sepenuhnya terserah padaku
kebebasan mutlak yang hanya mungkin diberikan oleh Raja Diraja yang sangat berkuasa, sangat pemurah, dan sangat penyayang..
jadi buat apa menghujat dan menggerutu.
seperti kata satrio arismunandar:
“rajawali memang burung perkasa. Ia mampu terbang ke langit tinggi.
Tapi lebih sering ia terbang sendirian…
Selalu sendirian.”
Saya mungkin gak punya pemahaman mendalam tentang ritual, makrifat, Syariat, tasawuf ataupun ilmu hikmah.
Tapi penalaran saya sederhana sekali.
Islam tidak diciptakan untuk menyusahkan kita, seperti utusan yang membawa berita gembira itu pada kita
Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam.
Islam agama yang sederhana, fitrah (sesuai dengan qudrat kita).
Bayangkan kita diberikan kesempatan bertemu dengan tuhan semesta alam, minimal 5 kali dalam sehari, sementara agama lain hanya pada waktu tertentu.
Bayangkan kita diberikan kesempatan mengembangkan kemampuan berpikir, tidak dibebani berbagai pantangan tanpa dasar.
Bayangkan kita diberikan 2 petunjuk, al Quran dan Hadist. Langsung dan dijamin keasliannya.
Sementara ada agama yang petunjuknya hanyalah salinan dari perilaku sang pemuka.
Bayangkan kita boleh menikah, beranak cucu, tanpa dikurangi kesempatannya menjadi pemuka agama.
Bayangkan kita boleh makan sapi, ayam, kambing, bahkan babi yang haram; tentunya dengan catatan amat sangat kepepet hingga jiwa taruhannya.
Bayangkan kita diberikan bulan ramadhan, dimana pahala diobral dan kita bisa kejar setoran.
Saya pernah mendengar seorang ulama yang mengatakan :
“Haram hukumnya beribadah kepada Allah kecuali yang diijinkannya.”
Bukan maksudnya mengharamkan ibadah, tapi menghindari bid’ah.
Menambah-nambahi ajaran tanpa dasar, bahkan dalam hal beribadah juga nggak boleh.
Tentu saja boleh melakukan terjemahan-terjemahan berdasarkan akal sehat terhadap ajaran Islam. - Kalau tidak begitu islam akan statis dan kehilangan kemampuan menyesuaikan diri pada perkembangan dunia. Berikutnya tinggal tunggu wafatnya….- Tapi terjemahan itu juga harus berdasar. Tidak boleh Cuma mengandalkan otak brilyan, tapi juga punya pengetahuan terhadap ajaran Islam.
Menurut saya Islam dasarnya adalah balance, keseimbangan, synchronization, tidak ada yang berlebihan dan kekurangan.
Ada hubungan dengan Allah; hubungan dengan sesama manusia, dan tentu saja dengan alam semesta ini.
Bukan hanya diharapkan menjadi insan yang taat beribadah, tapi juga gigih berusaha. Bukan hanya dekat ke akherat tapi juga lekat dengan dunia.
Memang baik jadi muslim taat yang hidup sederhana dan jauh dari dunia Tapi akan lebih bermanfaat kalau kita jadi muslim kaya yang tetap intact dengan dunia, bisa lebih banyak membantu orang. Dakwah bisa lebih kenceng, impactnya lebih terasa. Cuma godaan akan lebih jumawa.
Yah…makin tinggi pohon memang makin keras diterjang angin, tapi kita kan gak bisa selamanya jadi rumput yang diinjak-injak…
Tunjukkan kalau kita umat yang dianugerahi cahaya. Terangi orang lain, jangan malah menyimpan cahaya itu untuk mu sendiri.
Islam itu indah dan menarik.
Ketenangan yang ditawarkan, pelepasan yang dianugerahkan, pasti terlalu menarik untuk ditolak.
Tapi kadang-kadang kita dibatasi oleh kata-kata.
Kita dibesarkan oleh dunia yang percaya bahwa kata-kata adalah raja.
Dibuat percaya semua bisa dijelaskan dalam goresan-goresan yang dimaknai dengan kata-kata.
Padahal kata-kata itu sangat terbatas…
Keindahan dan kemudahan yang ditawarkan islam seringkali tertutupi oleh kata-kata yang mencoba menjelaskannya.
Bisakah kamu menjelaskan rasa sakit itu? Bagaimana bentuknya? Rasanya?
Bagaimana kamu menjelaskan surga? Yang tak pernah tertangkap mata? Tak pernah terdengar telinga? Dan tak mampu dibayangkan rasa?
Bagaimana kamu menjelaskan kebahagiaan? Sedang kamu dikungkung dunia yang penuh kenistaan? Yang kebahagiaan didalamnya hanya umbaran syahwat?
Bagaimana kamu menjelaskan Tuhan?
Apalagi untuk menjelaskan Allah……
Jadi kita jalani aja dengan sederhana
Disuruh beribadah, ya kita ibadah… toh Cuma 30 menit sehari… Cuma waktu untuk menghabiskan 5 batang rokok.
disuruh bagi-bagi rejeki ya dijalani aja… toh kita juga Cuma dikasih, toh bukan punya kita
disuruh berbuat baik ya dilakukan …toh kebaikan kita selalu diiringi pamrih, jadi jangan merasa seratus persen suci
disuruh mencegah yang munkar ya di coba saja…toh kita boleh mulai dari diri kita
gak usahlah pikir yang berat-berat
Allah tau kemampuan kita yang Cuma secuil, Dia yang menciptakan kita..
Percaya aja kalau kita tak akan dibebani diatas kemampuan kita…
Buktinya udara tak perlu dibeli, air tanah disediakan gratis, tak perlu soleh untuk dapat rizqinya.
Buktinya kita masih boleh berkeluarga, having sex, nonton televisi, dan bergaul dengan sesama.
Dan ternyata kebahagiaan sejati datang dari hal-hal sederhana seperti seulas senyum di bibir terkasih…..
Tapi itu menurut saya yang cetek ilmu agamanya.
Kadang-kadang aku ngerasa sendirian sekali, gak ada yang peduli and noone there when I look for comfort…tapi kemudian aku tersadar bahwa aku telah diberikan hak dan anugerah luar biasa. Tidak hanya diberikan anugerah kehidupan, aku juga diberikan kebebasan memilih sendiri jalanku…
apa yang aku ingin dan akan lakukan .apa yang aku rencanakan.. apa yang aku bayangkan..sepenuhnya terserah padaku
kebebasan mutlak yang hanya mungkin diberikan oleh Raja Diraja yang sangat berkuasa, sangat pemurah, dan sangat penyayang..
jadi buat apa menghujat dan menggerutu.
seperti kata satrio arismunandar:
“rajawali memang burung perkasa. Ia mampu terbang ke langit tinggi.
Tapi lebih sering ia terbang sendirian…
Selalu sendirian.”
